interview-ika-vantiani-kata-untuk-perempuan.jpg

Ika Vantiani: “Kenapa Harus Nunggu Nyemplung ‘Jurang’ Kalau Bisa Berempati Sejak Sekarang?” 

20 MARET 2020

Perempuan  hidup dengan jalan cerita yang berbeda-beda, serta memiliki cara pandang yang beragam pula. Sebagian terlahir dengan ‘kemewahan’ bisa menentukan pilihan hidup sebebas yang mereka suka, sebagian lainnya harus terbata-bata dan berusaha luar biasa  hanya untuk mengungkapkan satu atau dua patah kata. Tapi, dengan semua perbedaan dan kesibukan individual yang dipunya, gimana kalau predikat perempuan  sebenarnya tanpa sadar udah ‘mengikat’ kita dalam satu perjuangan yang sama? Bahwa meskipun kita merasa baik-baik saja, apakah berarti kesulitan dan

struggle

perempuan lain bisa diabaikan dan dianggap sebelah mata? 

Masih dalam suasana perayaan

Hari Perempuan Sedunia

, Sorabel berkesempatan mengajak seniman kolase sekaligus aktivis kesetaraan gender,

Ika Vantiani

, buat berbincang mengenai fenomena ini. Mulai kenapa sesama perempuan perlu membangun fondasi empati, apa yang ia perjuangkan lewat kontribusi aksi, sampai kisahnya ‘berorasi’ dan menyuarakan isu-isu seputar perempuan lewat media seni. Lewat dua jam obrolan penuh inspirasi, yuk bersama mengingat-ingat lagi, tentang mengapa suporter terbesar bagi seorang perempuan sebenarnya tidak lain dan tidak bukan adalah sesama perempuan itu sendiri. 

Hai Ika, kemarin ikut Women’s March ya? Kalau boleh tahu, kenapa sih selalu ikut berpartisipasi, apa yang menurut Ika spesial dari agenda tahunan ini? 

Ya, setiap tahun saya kebetulan emang selalu ikut

Women’s March,

cuma tahun kemarin aja nggak ikutan karena ada keperluan lain. Kalau ditanya kenapa selalu bergabung meramaikan, menurutku karena ini adalah wadah yang seru dan langka banget ya buat ditemui sehari-hari. Terlepas dari narasi tentang gimana kita bisa bebas berekspresi dan menjadi diri sendiri, hal yang nggak kalah spesial menurutku justru adalah kesempatan buat ketemu sama banyak banget kalangan. 

Women’s March

adalah satu dari sangat sedikit tempat di mana saya bisa benar-benar berinteraksi

as a fellow human

sama teman-teman transpuan, buruh perempuan termasuk asisten rumah tangga, komunitas

queer,

dan orang-orang lain yang selama ini kita tahu mereka ada di tengah kita, tapi nggak bisa dapat banyak kesempatan untuk ngobrol dalam kehidupan sehari-hari. Nah, saat kita dipertemukan dan bisa saling

sharing

di satu wadah kayak gitu

,

tanpa adanya batasan atau ‘penghakiman’, rasanya jadi lebih sadar aja kalau kita sebagai perempuan emang pada dasarnya sedang sama-sama berjuang. 

Jadi seolah diajak lebih memahami perjuangan sesama perempuan, ya? Tapi, ngomongin tentang

struggle

, dengan status Ika yang punya karir sukses, hidup di kota besar, dan dikenal berani menyuarakan pikiran, pernah nggak sih Ika akhirnya dianggap ‘

privileged’

dan dipandang seolah nggak punya kesulitan sebagai perempuan? 

Nah itulah menariknya. Pertama, saya sadar bahwa saya memang punya

privilege

. Saya bisa memilih mau kuliah di mana, bekerja dan tinggal di Jakarta, bisa bahasa Inggris, punya akses terhadap teknologi, serta bahkan tidak memiliki tanggungan secara finansial selain diri saya sendiri. Selama ini, saya masih suka  dapat pertanyaan dari sesama perempuan, yang beberapa di antaranya bahkan udah berteman belasan  tahun sama saya, tentang apa yang sebenarnya saya perjuangkan. Banyak yang suka nanya “

loe tuh sebenarnya ngapain sih, Ka?”.

Mereka menggangap saya  sebagai perempuan kan udah dapat semuanya: bebas mau pilih kerja di mana, bisa jadi

financially independent,

nggak ada yang melarang mau berekspresi kayak gimana.  Menarik sekali mendengarkan pertanyaan-pertanyaan yang  muncul dari perempuan lain.  

Saya pribadi pun dapat mengerti kenapa pertanyaan-pertanyaan itu bisa muncul. Satu hal yang harus disadari, kalau kita bisa bilang “

gue sebagai perempuan bisa menjalani hidup dengan santai, nggak ada yang nge-judge atau menyalahkan, keluarga dan orang tua gue mempercayakan pilihan pada diri gue sendiri”

maka kita juga mau  mengakui kalau kita emang punya

luck

.  Masalahnya, yang nggak boleh kita lupa, adalah bahwa nggak semua perempuan bisa mendapatkan keberuntungan, kebebasan, dan kesempatan yang sama. 

Bahkan, ketika kita berada dalam posisi ‘

privilege’

itu pun, sebenarnya setiap perempuan tetap punya

struggle-

nya masing-masing. Tapi juga bukan untuk dibandingkan ya, yang penting adalah kesadaran tentang hal itu. Ambil contoh perempuan-perempuan di Jakarta mungkin dianggap beruntung , semua bisa  didapat, semuanya tersedia,  dan bisa lebih bebas berekspresi. Tapi, semua itu bisa jadi merupakan ilusi yang semu. Karena akhirnya yang dilihat hanya bagian luarnya aja. Banyak orang nggak melihat proses atau perjuangan si perempuan untuk mendapatkan itu semua. Misal, alih-alih mau  mikir gimana beratnya menjadi seorang wanita karir di kota besar harus berjuang membagi waktu antara tuntutan kerja dan keluarga, yang dilihat mungkin hanya betapa kerennya ia bisa berkarir sambil tetap bisa mengurus keluarga. Pertanyaannya, apakah itu memang pilihan perempuan tersebut atau sebenarnya ia tidak memiliki pilihan untuk tidak melakukan keduanya? Saya ingin sekaligus mengingatkan bahwa hanya karena selama ini perempuan dianggap sebagai seseorang yang ahli

multi-tasking

, tidak semua perempuan mau dan ingin melakukannya.  Intinya, memang  beberapa perempuan beruntung berada dalam posisi

privilege,

tapi bukan berarti  dalam kemudahan itu jadi lantas sama sekali nggak butuh  perjuangan untuk menjalani dan mendapatkannya. 

Lalu, ketika mendapat pertanyaan-pertanyaan semacam itu, biasanya gimana Ika bereaksi atau menanggapinya? 

Setiap menerima pertanyaan itu, saya selalu pengen bilang “

lu jangan ngeliat guenya doang”

. Kalau mereka cuma melihat satu atau beberapa orang perempuan dalam lingkaran mereka saja yang seperti itu, mereka jadi seolah terbuai dengan visualisasi bahwa jadi perempuan zaman sekarang di kota besar emang seenak itu. Padahal realitanya, 500 teman perempuan saya yang lain di luar sana  tidak  bisa   mendapatkan kesempatan dan kebebasan itu. Mereka setiap hari harus

struggling

dengan peran-peran yang dibebankan pada perempuan di luar dari keinginan mereka sendiri, bahkan termasuk tanpa adanya

support system. 

cara-ika-vantiani-memaknai-international-womens-day-2020.jpg

Jadi menurutku pribadi ini sebenarnya bukan lagi tentang

privilege

atau enggak. Kita sebagai perempuan sama-sama sedang berjuang setengah mati mencari ruang yang aman dan nyaman. Istilahnya, perempuan yang dibilang

privilege

pun kadang mau ke ginekolog aja masih harus kesulitan nyari mana dokter yang nggak seksis, nggak diskriminatif, dll.

See,

kita semua selalu punya perjuangan dan kesulitan sendiri-sendiri. Terlepas dari si A hidup di kota besar si B hidup di desa, atau si A punya keluarga yang selalu mendukung dan si B punya keluarga yang selalu menuntut, semua perempuan pada dasarnya emang sedang sama-sama berjuang. Itulah makanya kita mesti saling dukung supaya masing-masing bisa memiliki dan menikmati kebebasan yang kita inginkan bersama.

Berarti, dengan fakta bahwa Ika berprofesi sebagai seniman (yang mungkin lebih nggak ‘terikat’ dengan kultur-kultur diskriminatif tertentu dalam perusahaan), sebenarnya Ika pun masih mengalami diskriminasi profesi sebagai perempuan? 

Bisa dibilang, iya. Gini, kata perempuan itu kan sifatnya ‘menjual’ banget ya. Apa-apa yang ditambahi

embel-embel

perempuan, akan

somehow

kelihatan lebih seksi dan menjual. Contoh yang mungkin beberapa kali saya alami, misalnya penyebutan ‘seniman perempuan’. Kenapa perlu banget mencantumkan tambahan gender di situ? Padahal menurutku, itu malah menjauhkan dari esensinya. Penggunaan gender kalau tidak hati-hati secara nggak langsung malah  jadi ‘alat’ yang tanpa disadari bisa mendiskriminasi kita. Mestinya kan yang dilihat karyanya, bukan gendernya. Untuk mendapatkan objektifitas ini yang sulit, karena adanya anggapan ‘perempuan’ menjual itu tadi.

Emang kenapa kalau seniman, pemain film, atau profesi apa pun yang sukses itu adalah perempuan? Apakah berarti secara nggak langsung perempuan dianggap sebenernya nggak bisa jadi sehebat itu? Di situlah pertanyaannya, dan itu jugalah bentuk diskriminasi lain yang juga masih sering dialami oleh perempuan, meskipun katakanlah ia nggak bekerja di sebuah korporasi yang cenderung punya kultur diskriminasi lebih kasat mata. Jadi, walaupun saya secara pribadi tidak mengalami diskriminasi bukan berarti seniman perempuan lainnya di luar sana tidak mengalaminya. Karena sistem kerjanya masih sangat patriarkal di mana yang diutamakan masih lelaki dan kesempatan lebih banyak diberikan kepada mereka daripada kepada perempuan.

Dengan semua fakta tadi, bahwa perempuan sebenarnya tanpa sadar emang nggak pernah lepas dari tuntutan, diskriminasi, dan ekspektasi, menjadi

supporting system

buat sesama perempuan adalah hal yang sangat dibutuhkan, kan? Dari kacamata Ika pribadi, gimana kita bisa selalu ‘mengingatkan diri’ buat tetap menjadi suporter sesama perempuan lain nggak cuma di momen perayaan IWD aja, tapi setiap hari? 

0 Komentar • 0 Suka
Sedang memuat…