20200209---Cover-Blog---Miss-Sorabel-Diary-Part-3-SM-BL (1).jpg

Miss Sorabel Diary Part 3: Jadi 'Food Vlogger' Itu Ternyata Nggak Gampang!

9 FEBRUARI 2020

Dear diary

Kalau dipikir-pikir, salah satu pekerjaan paling menjanjikan di era sekarang ya adalah jadi

content creator.

Siapa coba yang nggak suka buka YouTube di saat senggang? Mulai anak muda sampai orang tua, kayaknya udah ‘kecanduan’ banget nonton video-video di

platform online.

Makanya, aku sih nggak heran kalau banyak anak muda zaman sekarang bercita-cita jadi

youtuber.

Kalau aku nggak menekuni dunia

modelling,

mungkin bakal kepengen juga kali bikin

channel

YouTube sendiri :p Apalagi kalau lihat para

food vlogger,

waah

I can’t help but feel like I am drooling

alias ngiler. Udah keliling nyobain makanan enak, dapat penghasilan pula! 

Capture11.JPG

Tapiii tebakanku dan mungkin sebagian besar orang kalau kerja jadi

food vlogger

itu super enak dan kelihatan gampang, ternyata salah kaprah. Emang bener kata pepatah, kalau setiap profesi pasti punya tantangan dan kesulitannya masing-masing, termasuk para

food vlogger.

Hal ini udah aku rasakan sendiri saat

shooting

konten-konten video kuliner untuk

channel

YouTube Sorabel

.

Trust me

Sis, di balik sajian makanan enak dan

review-review

‘simpel’ yang kita lihat di depan layar, ternyata ada proses yang nggak mudah dan panjang. Kalau nggak percaya, sini deh kuceritain sedikit pengalaman berkesan, menantang, sekaligus menyenangkan yang sejauh ini sudah kulewati selama nyobain jadi ‘

food vlogger

pemula’ :D 

Di Balik Video Makan-Makan: Saat Tantangan & Keseruan Berpadu Seimbang

Dari dulu, aku diam-diam emang udah ‘memendam’ keinginan buat nyobain jadi

food vlogger.

Iya, seneng aja gitu lihat gimana para

reviewer

bisa ngomong di depan kamera, nyobain makanan-makanan baru, sampai akhirnya bisa memberikan informasi bermanfaat buat para pencinta kuliner. Pasti

happy

banget kan kalau orang lain bisa ikut tahu tempat-tempat makan enak karena rekomendasi yang kita kasih.

That’s why,

waktu aku diajak Sorabel untuk membuat video

review

makanan, rasanya selalu super

excited

dan nggak sabar. Kayak

dream comes true

gitu, deh. Haha :D Sejauh ini, ada kurang lebih tiga video

review

kuliner yang sudah kubuat bareng Sorabel, yaitu

review

minuman

brown sugar boba

,

makanan unik dan halal di Singapura

, sampai

rekomendasi tempat makan sate ayam enak di Jakarta

.  

Tahu nggak apa pelajaran berharga yang aku dapat dari proses pembuatan ketiga video di atas? Bahwa ternyata,

review

makanan itu punya keseruan sekaligus tantangan yang berpadu seimbang! Senang dan serunya dapat, tantangannya pun juga nggak usah ditanya, cukup banyak menanti di depan mata, Sis.

Hmm,

coba aku mulai dengan menceritakan keseruannya dulu, deh. Jadi gini, buat aku yang bukan orang Jakarta dan masih

clueless

soal kota ini, pengalaman

review

video kuliner bisa memberi referensi baru mengenai tempat-tempat makan yang wajib dicoba. Kalau aku pergi sendiri, pasti ujung-ujungnya cuma bakal makan di

mall.

Tapi, berkat Sorabel, referensi kulinerku jadi bertambah banget. Bahkan, waktu bikin video rekomendasi sate ayam, aku kan suka banget sama salah satu tempat yang dicoba, yaitu Sate Ayam Pertok H. Martingen di daerah Pondok Indah. Alhasil, setelah

shooting,

aku udah balik lagi ke sana bareng keluargaku buat nyobain untuk kedua kalinya. Sesuka itu deh sama sate ayamnya! Sista penasaran juga seenak apa rasanya?

Lihat dulu videonya

, dong. :p 

Itu tadi salah satu cerita serunya, tapi ada banyak juga tantangan-tantangan yang harus dihadapi dan nggak kelihatan di depan kamera. Pertama, ternyata cukup susah lho mencoba mengenali keunikan suatu makanan dan menyampaikannya dalam bentuk informasi yang mudah dimengerti sama penonton. Untung aku suka masak, jadi aku cukup bisa mengenali bumbu-bumbu yang ada di suatu masakan.

Hopefully,

apa yang aku

review

bisa bermanfaat beneran buat Sista dan nggak

mainstream

yaa. Kedua, milih kata-kata yang disampaikan pun sebisa mungkin harus bijak dan nggak sampai menjatuhkan suatu tempat. Kita mungkin aja nggak suka, tapi bukan berarti bisa merugikan bisnis orang lain, kan? Itulah kenapa, aku juga selalu hati-hati banget saat mengemas cara penyampaian

review

di depan kamera. Oh ya, karena kita juga pengen bisa kasih

review

yang informatif dan lengkap, nggak jarang aku juga harus ngehafalin sejarah suatu makanan dan tempat makannya. Emang sejarah Indonesia aja yang perlu dihafal? Sejarah tempat makan juga nggak kalah penting dong untuk disampaikan biar bisa jadi

insight

lain buat penonton. Hehe. 

0 Komentar • 0 Suka
Sedang memuat…