artikel-tentang-egoisme.jpg

Miss Sorabel Diary Part 7: Kita Egois atau Enggak? Pandemi Ini Menjawabnya

5 APRIL 2020 

Dear diary, 

Earth is currently healing, but people are somehow suffering.

Nggak kerasa, udah hampir satu bulan kita sama-sama ‘berperang’ melawan

COVID-19

dan menjalani masa #dirumahaja atau

social distancing.

Walaupun rasa bosan udah mulai cari perhatian,

please please stay safe

dan tetap optimis, ya! Mengalah sejenak buat nggak keluar rumah bakal jauh lebih gampang daripada kita justru merepotkan diri sendiri dan orang-orang sekitar karena risiko tertular. 

Ya, di momen-momen kayak gini, mau nggak mau kita akhirnya juga seolah makin diajak menyadari dan memahami kalau konsep egoisme manusia itu ternyata kompleks banget, ya :’) Di satu sisi, saat kondisi lagi serba krisis kayak sekarang, wajar banget kalau semua orang pasti berlomba-lomba pengen memastikan diri sendiri tetap

happy.

Tapi, di sisi lain, gimana kalau terlalu berfokus pada kebahagiaan diri ternyata justru bisa berimbas kurang baik buat orang lain? Selain diajak rehat sejenak dari kesibukan, mungkin pandemi ini sebenarnya juga udah memberi kita satu lagi kesempatan besar: buat belajar berdamai sama egoisme pribadi dan mengingat-ingat lagi apa yang sebenarnya dimaksud dengan berbagi empati. 

Egoisme Itu Manusiawi, Self-Centric yang Wajib ‘Dibasmi’ 

egois-di-tengah-covid-19-artinya.jpg

Manusia terlahir dengan banyak banget sifat dan naluri dasar, yang salah satunya biasa kita kenal dengan nama egoisme.

Not to be naive,

siapa sih orang di dunia ini yang nggak pengen mendapatkan semua yang terbaik buat diri mereka sendiri? Nggak perlu merasa jahat kalau kita punya pikiran kayak gitu, karena gimanapun itu adalah hal yang emang manusiawi dan pasti pernah dirasakan semua orang. Simpelnya, buat apa sih kita susah-payah bangun pagi, sekolah atau bekerja sampai malam, dan menghadapi banyak tantangan kalau

at the end

bukan ditujukan buat mencari kebahagiaan dan kesenangan diri sendiri? 

The thing is,

egoisme emang wajar dan manusiawi, tapi gimana kalau naluri kita buat selalu mengusahakan yang terbaik buat diri sendiri akhirnya bikin kita jadi nggak peduli lagi sama apa yang dilalui orang lain? Kabar buruknya

,

hal inilah yang emang rentan banget terjadi. Aku

personally

juga nggak mengelak, kalau ada kalanya terlalu fokus mengejar tujuan pribadi bikin kita akhirnya jadi ‘nggak sempat’ buat sekadar menoleh sejenak dan melihat kondisi di sekitar kita. Pokoknya kita enak, kita gampang, kita bahagia, maka apa yang dijalani dan dilalui orang lain nggak akan susah-susah kita pikirkan. Saat udah sampai di tahap ini, maka menurutku sudah waktunya kita buat mulai mengontrol diri. Karena bisa jadi, yang kita rasakan bukan lagi egoisme yang manusiawi, tapi justru adalah sifat egoisme tingkat tinggi yang udah menjurus pada sikap

self-centric. And for sure,

perilaku

self-centric

inilah yang wajib banget kita lawan, khususnya di tengah kondisi serba krisis kayak sekarang. 

empati-di-tengah-pandemi-covid-19.jpg

Tanpa mementingkan ego pribadi pun sebenarnya kita udah sama-sama ada di situasi sulit. Apalagi, kalau kita masih memperkeruh keadaan dengan bersikap bodo amat dan nggak mau peduli. Contoh sikap

self-centric

yang seharusnya perlu dibasmi, mungkin udah mulai banyak kelihatan di sekitar kita saat ini. Saat banyak orang lagi bersama-sama

stay

di rumah aja dan menekan keinginan buat bersenang-senang demi mengurangi

persebaran virus

corona

, beberapa pihak nyatanya masih merasa situasi ini bukan menjadi masalah mereka. Masih ada yang dengan santainya nongkrong di luar rumah, berkumpul bersama seolah nggak terjadi apa-apa, dan melakukan rutinitas normal karena merasa mereka baik-baik aja. 

Di awal, kita mungkin bisa berpikir “

ya udah sih kalau sakit juga aku yang ngerasain’.

Tapi, kita lupa buat mikir lebih jauh, kalau kita sakit orang lain juga bisa tertular, rumah sakit jadi makin penuh, tenaga medis jadi makin kewalahan, kita bisa jadi mengambil hak perawatan orang lain yang mungkin lebih membutuhkan, dan banyak lagi dampak lain yang mungkin sama sekali nggak sempat kita pikirkan.

See,

‘cuma’ berawal dari sikap nggak mau peduli dan mementingkan ego pribadi, yang menanggung akibatnya bukan lagi atas nama pribadi aja, tapi juga banyak orang lain yang sebenarnya sama sekali nggak berhak ikut merasakan akibat dari apa yang kita lakukan. Kalau hal itu terjadi, maka egoisme kita jelas udah nggak bisa lagi disebut sebagai hal yang manusiawi.

0 Komentar • 0 Suka
Sedang memuat…