Memahami pentingnya self love menurut Sis Rani Zebua.jpg

(OPINI SISTA) Memaafkan Diri Sendiri, 'Benteng' Pertama untuk Lawan Negativity    

Opini terpilih dari Sista: @rani_zebua

29 FEBRUARI 2020

PS: artikel ini ditulis berdasarkan opini Sista @rani_zebua mengenai pengalaman ‘disakiti’ lewat kata-kata negatif, juga caranya untuk bangkit dan berdamai dengan diri sendiri.

Yes,

para Sista sekarang juga bisa ikut menyuarakan opini untuk dimuat di blog Sorabel. Penasaran gimana caranya? Kepoin di bagian akhir artikel, ya!

Satu Detik Komentar Terlontar, Mingguan Frustrasi ‘Tersembunyi’ di Dalam Kamar

self love artikel dari Sista Rani Zebua.jpg

Pernah nggak kalian tahu gimana sedih dan ‘sakitnya’ dibanding-bandingkan sama saudara sendiri?

Unfortunately,

aku pernah. Saking masih membekasnya pengalaman itu, aku nggak ragu ikut menuliskan jawaban saat akun Instagram @sorabelofficial melemparkan

story

berisi pertanyaan di atas.

Saat orang-orang bilang aku adalah yang terjelek di antara saudara-saudaraku”

,

itulah kalimat yang saat itu kutuliskan sebagai jawaban. Kalau dipikir-pikir, ternyata benar juga ya kalau kata-kata emang punya efek yang nggak main-main. Bayangin aja, kejadian itu udah terjadi waktu aku masih duduk di bangku SMP. Tapi sampai sekarang berusia 21 tahun, aku masih bisa dengan jelas banget mengingat betapa malu, sedih, dan

down-

nya aku waktu mendengar kata-kata itu. 

Well,

buat berbagi sedikit pengalaman dan pelajaran tentang betapa hebatnya kata-kata bisa memengaruhi seseorang,

let me tell you a little story about it.

Hari itu sama kayak waktu-waktu yang lain, aku lagi ngobrol dan berbagi cerita bareng saudara-saudaraku di depan rumah. Suasananya benar-benar terasa seru,

fun,

dan hangat, sampai ada salah seorang tetangga lewat di depan kami. Aku juga nggak tahu apa yang dia pikirkan saat itu, tapi dengan entengnya dia bilang di depanku “

Cantik ya mereka, nggak kayak kamu. Paling jelek di antara kakak dan adik-adikmu.’ That’s it,

satu kalimat yang diucapkan sambil lalu, dan mungkin maksudnya juga sekadar basa-basi. Tapi satu hal yang mungkin nggak dia sadari, adalah kalau satu kalimat itu benar-benar ‘menancap’ di benakku, dan nggak semudah itu berlalu kayak dia yang dengan ringannya langsung pergi setelah ‘mampir’ mengucapkan kata-kata itu. 

Rani Zebua mengajak pembaca untuk stop body shaming.jpg

Di momen setelah mendengar celetukan itu, aku nggak bisa nahan diri untuk langsung merasa minder dan

down.

Apalagi saudara-saudaraku sendiri juga dengar kalimat itu. Sebagai anak SMP yang lagi masa-masanya berjuang membangun kepercayaan diri, bisa dibayangkan dong gimana mudahnya kata-kata itu langsung merusak

self-esteem

ku. Sejak hari itu, aku rasanya jadi malas banget keluar rumah dan ketemu tetangga. Ada perasaan

insecure

kalau-kalau semua orang juga menganggap kayak gitu, dan menyampaikannya lagi ke aku. Apalagi, sebelum-sebelumnya aku juga pernah beberapa kali mendapat sindiran serupa, meskipun nggak seterang-terangan apa yang barusan aku terima. 

Akhirnya, ada momen di mana selama berminggu-minggu aku lebih milih mengurung diri di rumah dan cuma keluar kalau ada perlu aja. Sedihnya lagi, aku juga jadi nggak bisa menahan diri buat mulai membanding-bandingkan diriku sendiri sama saudaraku. Meski mereka sangat suportif dan berusaha menghibur, tiap lihat saudara-saudara aku jadi mikir kenapa aku nggak secantik mereka. Iya, kata-kata yang kita ungkapkan sekilas lalu ternyata emang bisa punya efek ‘menghancurkan’ sebesar itu. Satu detik komentar yang mungkin diucapkan asal dan tanpa berpikir, bisa jadi ‘momok’ yang menghantui seumur hidup buat mereka yang menerimanya.

So, think twice before you speak is indeed so true. 

0 Komentar • 0 Suka
Sedang memuat…