sorabel-saat-wanita-bicara-international-womens-day-2020-1.jpg

Saat Wanita Akhirnya Bicara #2: Pendidikan Adalah Hak Semua Insan, Bukan Laki atau Perempuan!

Opini Terpilih dari Sista: @paruna_sari_dewi 

23 MARET 2020

PS: artikel ini ditulis berdasarkan opini dan cerita dari Sista @ulinyosefina tentang pengalaman ketidaksetaraan gender yang pernah diterimanya. Sis Ulin membagikan ceritanya lewat wadah opini

‘Saat Wanita Bicara’

yang dihadirkan Sorabel untuk merayakan

International Women’s Day

selama bulan Maret. Semoga kisah Sis Ulin bisa menginspirasi semua wanita Indonesia! 

Memupuk Asa untuk Sekolah, Melapangkan Dada untuk Mengalah 

Semenjak Ibu Kartini bergerilya memperjuangkan emansipasi, sejak saat itu pula para wanita seharusnya sudah bisa mencicipi manisnya kesetaraan, khususnya dalam bidang pendidikan. Berkat jasa beliau, wanita Indonesia di masa lampau akhirnya bisa merasakan betapa asyiknya memperluas ilmu dan wawasan, salah satunya melalui sekolah-sekolah wanita yang ia dirikan. Setidaknya, itulah yang selama ini aku kenal lewat kisah sejarah di buku-buku pelajaran. Tapi, siapa yang mengira kalau bahkan berpuluh-puluh tahun kemudian, ‘kemewahan’ untuk mengenyam pendidikan ternyata masih belum bisa dirasakan oleh sebagian perempuan. Aku, adalah salah satu di antara perempuan-perempuan itu. 

Kalau alasan untuk tidak melanjutkan pendidikan itu murni adalah karena faktor ekonomi, sedikit banyak aku pun pasti sangat bisa mengerti. Ironisnya, di antara sekian banyak alasan yang melatarbelakangi kesulitanku dalam mengenyam pendidikan lebih tinggi, masih ada isu kepentingan gender antara perempuan dan laki-laki yang ikut membayangi. Dengan pengalaman yang cukup membekas dan nggak terlupakan ini, aku pun nggak ragu ikut menuliskan opini saat Sorabel mengunggah

postingan blog Saat Wanita Bicara

dan mengajak para wanita buat mengungkapkan isi hati. 

Nggak perlu menunggu tumbuh besar dan dewasa, pengalamanku merasakan dan mengalami sendiri pahitnya menjadi ‘korban’ kesenjangan gender bahkan sudah dimulai sejak masih berada di usia anak-anak menjelang remaja. Coba kutanya, mimpi apa sih yang dimiliki anak SD yang baru aja dinyatakan lulus dari bangku sekolah? Ya, sama dengan hampir kebanyakan anak lainnya, mimpiku saat itu sama sekali nggak muluk dan sederhana: bisa memakai seragam SMP, masuk ke sekolah baru, dan tentunya bertemu sama teman-teman baru pula. Tapi, melihat kondisi ekonomi keluarga yang cukup lemah, ditambah fakta kalau kakak laki-lakiku yang pertama juga masih duduk di bangku sekolah, sebenarnya aku sudah nggak berharap besar buat bisa melanjutkan pendidikan ke bangku SMP.

Pikiranku yang semula udah

hopeless

itu tiba-tiba berubah jadi super gembira dan

excited,

karena beberapa minggu sebelum pendaftaran dibuka, almarhum Papaku mulai membahas-bahas tentang rencana pendaftaranku ke salah satu SMP yang ada. Tapi, saat waktu pendaftaran semakin dekat, orang tuaku tiba-tiba aja membatalkan semua rencana itu dan justru menyuruhku untuk nggak usah lanjut bersekolah. Aku paham banget kalau faktor ekonomi menjadi alasan utamanya. Tapi, hal yang bikin aku sangat sedih dan kecewa, adalah karena kakak laki-lakiku masih bisa dengan leluasa melanjutkan pendidikannya. Ya, mungkin sama dengan beberapa keluarga lain di luar sana, kedua orang tuaku rupanya memang masih menganut prinsip kalau pendidikan anak laki-laki perlu lebih diprioritaskan di dalam keluarga. 

Wah, bisa dibayangkan dong gimana ‘hancur’ dan sedihnya aku waktu itu? Seorang anak remaja yang punya rasa penasaran tinggi dan udah menggebu-gebu karena dijanjikan bisa lanjut sekolah, tiba-tiba seolah dipaksa buat melupakan mimpinya begitu aja. Mirisnya lagi, setelah kegagalan lanjut masuk ke SMP itu, aku akhirnya harus tinggal di rumah dan membantu orang tuaku bekerja di kebun. Meski udah berusaha tegar, jujur mengusir rasa kecewa dan sedih itu rasanya susah banget. Tiap hari, aku masih sering nangis sendiri kalau ingat mimpiku buat sekolah. Apalagi tiap melihat teman-teman seangkatanku yang pulang kampung buat berlibur, aku nggak bisa nahan buat semakin merasa miris dan kecewa. Kenapa, kenapa bahkan dalam hal sepenting pendidikan, anak perempuan pun harus dinomorduakan?  

0 Komentar • 0 Suka
Sedang memuat…