saat-wanita-bicara-konstruksi-gender-pada-wanita.jpg

Saat Wanita Akhirnya Bicara #3: Menjalani Hidup Itu Karena Mau, Bukan Karena Diburu-buru

Opini Terpilih dari Sista: @stufflidyadoes

29 MARET 2020

PS: artikel ini ditulis berdasarkan opini dan cerita dari Sista @stufflidyadoes tentang pengalaman ketidaksetaraan gender yang pernah diterimanya. Sis Lidya membagikan ceritanya lewat wadah opini

‘Saat Wanita Bicara’

yang dihadirkan Sorabel untuk merayakan

International Women’s Day

selama bulan Maret. Semoga kisah Sis Lidya bisa menginspirasi semua wanita Indonesia!

Wanita & Ekspektasi: Bagaikan ‘Sahabat’ Sejak Dini 

mengapa-ada-ketidaksetaraan-gender-karena-ada-ekspektasi.jpg

Mendengar mengenai tuntutan dan ekspektasi yang dibebankan pada wanita adalah satu hal, tapi mengalami sendiri gimana rasanya ‘memikul’ beban itu adalah hal lain. Hidup di tengah masyarakat yang masih sangat hobi mengatur bagaimana wanita seharusnya bersikap, berprofesi, sampai berkehidupan, hampir semua wanita Indonesia mungkin udah terlalu paham mengenai betapa banyaknya tuntutan dan ekspektasi yang dibebankan masyarakat di pundak para perempuan. Mulai dari hal ‘sekecil’ harus bisa memasak, sampai hal lebih fundamental seperti tuntutan buat cepat menikah.

Terlahir dengan status WNI di KTP, aku tentu juga nggak lepas dari beban ekspektasi semacam itu. Apalagi, aku lahir dan besar di tengah keluarga yang agamis dan masih sangat dipengaruhi oleh budaya patriarki. Belum cukup sampai di situ, aku juga adalah anak perempuan satu-satunya dalam keluarga, sekaligus cucu pertama pula dari pihak keluarga Papa. Dengar latar belakang itu aja, mungkin langsung bisa kebayang kan gimana tuntutan yang harus kuhadapi, bahkan sejak usia dini? Hehe. 

Dari kecil, di berbagai kesempatan, Mama udah hampir selalu menyisipkan ideologi supaya aku nantinya jadi istri yang jago masak biar disayang mertua, nggak melawan saat dimarahi suami karena kalau kita dimarahi itu artinya selalu salah kita, juga jadi istri yang bisa ngurus anak tapi sekaligus tetap cantik supaya suami nggak selingkuh. Bukan cuma ideologi, bahkan dalam praktiknya pun Mama juga udah selalu mengarahkan aku untuk jadi wanita yang memenuhi standar wanita ‘seutuhnya’ menurut konstruksi masyarakat. Dari SD misalnya, aku selalu disuruh membantu Mama di dapur sementara adik laki-lakiku nonton TV dan main. Aku juga selalu dikasih asupan sayur-sayuran. Bukan cuma biar sehat, tapi juga “

supaya nanti bisa melahirkan normal”.

Pokoknya, jalan hidupku waktu dewasa nanti seolah udah diatur dan dipersiapkan banget supaya bisa

fit in

dengan ekspektasi banyak orang tentang figur wanita. Iya, wanita dan ekspektasi emang sedekat itu. Kalau kamu terlahir sebagai wanita, maka siap-siap juga menghadapi berbagai harapan dan ‘keharusan’ yang ada. 

0 Komentar • 0 Suka
Sedang memuat…