20200211-Cover-Blog-(INTERVIEW)-SM-BL.jpg

Ingin Mulai Berbisnis Kuliner? Baca Dulu Cerita Inspiratif dari Owner Kebab Baba Rafi Ini!

11 FEBRUARI 2020

Sebagian besar orang mungkin sudah sangat familiar dengan nama

Kebab Baba Rafi

sebagai salah satu

franchise

kuliner yang terkenal di Indonesia. Dengan tidak kurang dari 1.300

outlets

yang tersebar di 33 provinsi dan 9 negara, sangat mudah membayangkan bahwa sosok di balik pelopor bisnis makanan kebab di Indonesia ini sudah ‘kenyang’ mengecap kesuksesan, hingga tak perlu lagi mengkhawatirkan terlalu banyak hal. Pertanyaannya, apakah kegemilangan bisnis yang saat ini kita saksikan dan menjadi inspirasi banyak orang tersebut bisa serta-merta datang tanpa melewati kisah dan perjalanan panjang? 

Untuk memahami apa itu kegigihan, mengetahui seberapa aman ekosistem bisnis di Indonesia bagi para perempuan, hingga menilik arti dari jatuh lalu berjuang, Sorabel berkesempatan untuk melakukan

interview

langsung dengan sang

owner,

Nilamsari Sahadewa

. Lewat dua jam obrolan hangat yang dibagikan, segudang inspirasi dan pelajaran baru juga siap ditularkan. Bahwa ternyata bisnis memang tak pernah semudah membalikkan telapak tangan, namun hasil manis juga tak akan jenuh menunggu bagi mereka yang memilih tak berhenti untuk berjuang.

Siapa Bilang Berbisnis dari Nol Itu Mustahil Dilakukan? 

2fe7b881-0918-4e37-af43-d965c2ef7363.jpg

Modal pas-pasan, sama sekali nggak punya pengetahuan bisnis dan pengalaman, juga nggak tahu apa yang harus dilakukan duluan,”

sederet kata-kata tersebut seringkali muncul dan menjadi penghalang saat seseorang tanpa

background

bisnis ingin mulai mencoba peruntungan mengemban status sebagai wirausahawan. Di sisi lain, alasan-alasan yang sama jugalah yang akan membuat bisnis Kebab Baba Rafi mungkin tak akan pernah kita kenal hingga sekarang, kalau saja seorang Nilamsari Sahadewa memilih untuk mengikuti ketakutan-ketakutan yang muncul di benaknya. 

Mengemban studi di jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga, Nilam bukanlah wanita yang lahir dengan ‘sendok emas’ tersaji di depan wajahnya. Jangankan mewarisi bisnis keluarga, bagi Nilam yang tidak tumbuh dalam keluarga

entrepreneur,

pun tak mengenyam pendidikan dalam ranah bisnis, pengetahuan mengenai apa-apa saja yang harus dilakukan bahkan juga sama sekali tak pernah ia miliki sebelumnya. 

Beruntung, ‘kenekatan’ sebagai anak muda berusia 19 tahun yang mau tak mau harus mulai berpikir independen mencari sumber penghasilan karena keputusan menikah muda, membuat Nilam nggak ragu mencoba peruntungannya di dunia bisnis. “Dulu di usia 19 tahun, apa pun aku coba lakukan buat mendapatkan penghasilan. Mulai dari menjadi guru les sampai berbisnis properti, semua dicoba. Tapi semuanya akhirnya berhenti dan nggak menghasilkan, karena mungkin aku nggak menjalaninya dengan

passion,”

ujar Nilam membuka percakapan. 

Perjalanan Nilam dalam berbisnis kuliner lantas dimulai dengan membuka gerai

burger

di kota kelahirannya, Surabaya, pada tahun 2003. “Dengan pengetahuan yang nol besar soal bisnis, akhirnya kepikiran bisnis kuliner yang simpel-simpel dulu aja, tapi harus inovatif. Karena waktu itu bisnis

burger

di Surabaya masih jarang banget, jadilah mencoba jualan

burger.

Dengan modal Rp4 juta dan jualan pakai gerobak yang dibuat sendiri, bisnis nggak disangka mulai berkembang. Dari yang awalnya cuma satu gerobak, akhirnya bisa menjadi 6 gerobak,” tutur wanita kelahiran tahun 1982 ini mengenang masa-masa awal perjuangannya. 

dba1cb3e-ea62-4533-8b96-286ba2a02622.jpg

Tapi, jangan disangka bahwa bisnis kuliner pertama Nilam lantas berjalan mulus begitu saja tanpa ‘batu’ hambatan. Sekitar beberapa tahun berjalan, saingan distributor

burger

yang lebih besar dan profesional hadir di Surabaya, membuat bisnis Nilam perlahan-lahan mulai tergusur. “Apalagi waktu itu kan kita masih benar-benar

clueless

banget ya soal wirausaha. Nggak tahu gimana cara

hire

orang, nggak tahu izin lokasi gimana bahkan sampai berkali-kali masalah sama satpol PP. Pendapatan seminggu berapa, harus bayar buat lokasi gerobak berapa, jadi banyak ruginya. Waktu ada saingan yang jauh lebih profesional masuk, kalang kabutlah kita.”  

Di masa-masa ‘terpuruk’ setelah kegagalan bisnis pertama itu, Nilam mengambil waktu untuk mengunjungi orang tuanya yang bekerja di Qatar. Tak disangka, kunjungan itu membuat Nilam mendapatkan ide baru untuk merintis bisnis kebab yang saat itu lazim ditemui sebagai jajanan sehari-hari di Qatar. “Berbekal resep yang kita dapat dari salah satu

maid

yang bantu-bantu di rumah orang tua, akhirnya di tahun 2005 kita memulai bisnis Kebab Baba Rafi. Tentunya dengan

trial and error

dulu. Waktu pertama kita pakai resep asli, orang-orang yang kita minta mencoba bilang rasanya aneh. Akhirnya kita coba sesuaikan lagi dengan lidah masyarakat sini, plus bahan-bahan bakunya juga disesuaikan lagi agar harganya lebih terjangkau,” kisah wanita yang kini juga menjadi

owner

dari Smokey Kebab, Skak Food, dan Kals Food ini. 

0 Komentar • 0 Suka
Sedang memuat…