(INFOGRAFIK) Apa yang Harus Sista Lakukan Saat Mengalami Pelecehan Seksual?
16 Desember 2019

Berdasarkan data yang dirilis oleh Komnas Perempuan, aduan atas tindakan pelecehan seksual terus meningkat dari tahun ke tahun. Di tahun 2018 misalnya, kasus pelecehan seksual meningkat sebanyak 14% atau mencapai 406.178 kasus. Kondisi ini tentu menjadi hal yang ironis dan menyedihkan. Mau diakui atau tidak, lingkungan di sekitar kita memang masih belum bisa dikatakan menjadi tempat yang nyaman dan aman bagi semua orang, khususnya para wanita.

Sayangnya, konsep sexual harassment yang masih sering dianggap tabu membuat beberapa wanita terkadang nggak tahu harus berbuat apa saat mengalaminya. Ironisnya lagi, minimnya edukasi dan pemahaman mengenai hal ini terkadang juga masih sering membuat beberapa wanita tidak sadar jika ia sebenarnya sudah mengalami suatu tindak pelecehan. 

Mengenal Bentuk-Bentuk & Kategori Pelecehan Seksual 

Image Source

Yes Sis, pelecehan seksual memang nggak selalu hanya berkaitan dengan perbuatan yang melibatkan fisik dan sentuhan. Hal sesederhana ucapan, kode, hingga ajakan yang bersifat merendahkan, menyinggung ranah seksual, dan membuat seseorang merasa nggak nyaman juga bisa dikategorikan sebagai bentuk pelecehan. Nah, sebelum kita bisa bersama-sama ‘berdiri’ dan melawan perbuatan amoral ini, Sista tentu juga perlu terlebih dahulu memahami bentuk-bentuk pelecehan seksual itu sendiri. Jadi, apa saja sih perbuatan yang bisa dikategorikan sebagai sexual harassment? 

1. Pelecehan Nonverbal

Apakah Sista pernah mendapatkan kode-kode atau isyarat yang menimbulkan situasi nggak nyaman atau bahkan ‘menakutkan’ seperti kedipan mata, menatap tubuh dengan pandangan penuh nafsu, atau senyuman yang bertujuan untuk menggoda? Jika iya, maka sebenarnya perilaku yang Sista terima juga sudah masuk dalam kategori pelecehan seksual. Sexual harassment dengan melibatkan kode atau isyarat semacam ini biasa disebut sebagai pelecehan nonverbal. 

2. Pelecehan Visual 

Sebagai wanita, tentu kita akan merasa nggak nyaman saat ada orang lain yang dengan sengaja mempertontonkan materi-materi berbau seksual di depan mata, apalagi jika orang tersebut adalah lawan jenis. Itu sebabnya, menerima pesan visual berkaitan dengan materi seksual juga bisa dikategorikan sebagai bentuk pelecehan. Praktik pelecehan visual yang umum ditemui misalnya mengirimkan foto atau video bersifat pornografi, hingga mempertontonkan bagian-bagian intim dengan sengaja pada wanita.

3. Pelecehan Psikologis 

Beberapa wanita tentu pernah mengalami kondisi di mana lawan jenis secara terus-menerus mengajukan permintaan atau ajakan yang nggak Sista sukai, seperti ajakan kencan, pergi berdua, atau bahkan terang-terangan mengajak melakukan hubungan seksual. Dalam waktu lama, ajakan menjurus ‘paksaan’ yang bersifat terus-menerus dan berkelanjutan semacam ini juga bisa membuat Sista merasa tertekan bahkan ketakutan. Karena itu, perbuatan-perbuatan di atas juga bisa dianggap sebagai bentuk pelecehan, tepatnya dalam ranah pelecehan psikologis. 

Image Source

4. Pelecehan Lisan 

Ini dia, salah satu bentuk pelecehan yang juga paling sering terjadi dan dialami para wanita. Saat sedang berjalan di ruang publik, seseorang dengan sengaja bersiul-siul atau memanggil Sista dengan sebutan ‘hai cantik’, ‘halo seksi’, dan pernyataan-pernyataan bernada menggoda lainnya. Praktik yang umum disebut dengan istilah catcalling ini tentu saja juga bisa dianggap sebagai tindakan harassment, tepatnya pelecehan lisan. Tak hanya itu, mendapat komentar tentang bagian atau bentuk tubuh Sista dan mendapat gurauan bermuatan seksual, juga masuk dalam kategori pelecehan ini.

5. Pelecehan Fisik 

Salah satu bentuk pelecehan yang bisa meninggalkan efek traumatik dan psikologis paling mendalam tentu saja adalah bentuk pelecehan fisik. Beberapa praktik pelecehan fisik yang sering terjadi misalnya menempelkan tubuh, mengelus, merangkul, memeluk, hingga mencium dengan paksaan dan tanpa mendapatkan persetujuan dari orang yang bersangkutan. Dalam level ekstrem, pelecehan fisik juga meliputi serangan seksual hingga pemerkosaan. 

Tonic Immobility & Ketidakmampuan Tubuh untuk Bereaksi 

Image Source

Saat mengalami pelecehan seksual, terutama yang sudah melibatkan ranah fisik, hampir sebagian besar wanita kesulitan untuk melawan atau bereaksi. Jangankan untuk lari, sekadar berteriak atau meminta tolong pun kadang mereka tak mampu. Tentu saja hal ini bukan berarti mereka pasrah atau menikmatinya. Namun, hal ini terjadi akibat sebuah kondisi yang dikenal dengan istilah tonic immobility. 

Secara sederhana, tonic immobility bisa didefinisikan sebagai ketidakmampuan tubuh untuk bergerak atau bereaksi akibat tekanan rasa shock dan takut yang begitu tinggi. Dalam kondisi ekstrem, tonic immobility bahkan bisa membuat seseorang tiba-tiba seolah ‘lumpuh’ dan nggak bisa melakukan apa-apa. Nggak heran, kalau korban pelecehan seksual yang mengalami tonic immobility biasanya akan mengalami efek traumatik yang sangat parah, atau biasa disebut post traumatic stress disorder. Sebab, mereka sangat sadar dan ingat detail pelecehan yang diterima, namun nggak bisa melakukan apa-apa untuk melawannya. 

Diam Bukan Pilihan, Stand for Your Right! 

Image Source

Karena rasa takut atau bahkan malu atas penilaian orang-orang di sekitar, beberapa wanita akhirnya memilih bungkam dan nggak melakukan apa-apa setelah mengalami pelecehan seksual. Tapi, sebenarnya, diam dan memendam semuanya sendiri bukan merupakan tindakan yang bijak buat dilakukan. Nggak hanya bisa mengganggu psikologis Sista karena memendam rasa trauma dan ketakutan luar biasa, tidak melakukan tindakan apa-apa juga bisa membuat pelaku merasa ‘di atas angin’. Alhasil, ia tidak akan merasa jera dan bisa melakukan hal yang sama lagi, baik itu pada Sista maupun wanita-wanita lainnya. 

Karena itu, alih-alih diam dan berpasrah, sudah waktunya para wanita berani bertindak tegas dan melawan pelecehan seksual yang diterima, sekecil apapun bentuknya. Di awal, hal itu mungkin memang akan terasa sangat berat dan sulit, apalagi jika dibayang-bayangi kekhawatiran akan mendapatkan penilaian negatif dari orang-orang sekitar. Tapi percayalah Sis, berani mengungkapkan tindak pelecehan setidaknya akan membuat Sista merasa sedikit lega. Tak hanya itu, Sista juga bisa berkontribusi menciptakan lingkungan yang lebih aman dan nyaman untuk banyak wanita. Lalu, apa sih hal yang bisa Sista lakukan untuk menghadapi dan melawan pelecehan seksual? Simak caranya di infografik ini, yuk! 

Agar nggak ada lagi korban pelecehan seksual yang ragu mengungkapkan tindakan yang dialaminya karena takut bayang-bayang omongan orang, sudah seharusnya kita sebagai sesama wanita juga saling mendukung dan menguatkan. Alih-alih memberikan komentar bernada menyalahkan atau merendahkan, kenapa nggak justru memberikan dukungan moral agar bisa menciptakan lingkungan yang aman bagi sesama wanita, bukan? Jangan lupa, simpan dan bagikan juga infografik di atas pada sebanyak mungkin wanita agar kita bisa bersama-sama saling meningkatkan kepedulian pada isu yang masih sering menghantui para wanita ini. Let’s stand for our right, girl!

18 SUKA ‧ 0 KOMENTAR
Sedang memuat…

Produk Menarik Buat Sista